Antara Farah Quinn dan Marinka, mau pilih yang mana?

“Puasa ternyata bisa bikin lapar mata.”

Belakangan ini, gua lagi suka banget nonton acara masak-memasak di televisi. Sebenarnya, sebagai ajang pelampiasan aja buat gua yang puasa dan mesti nahan lapar dari pagi sampai sore. Tapi kadang keterusan ngebayanginnya waktu acara udah selesai. Gua sendiri g milih-milih acara buat ditonton. Yang penting membahas soal makanan, hayuk. Dari yang hostnya anak kecil, cantik, sampai yang tampangnya g jelas, gw tonton. Tapi dari banyak acara, gw suka dua acara memasak, yaitu Ala Chef sama Master Chef Indonesia.

Kenapa gua suka Chef Farah Quin, jawabannya sudah jelas teman, gua terpikat sama kecantikannya yang asia banget. Gua suka dengan kepercayaan dirinya. Gua lihat kulitnya memang item manis tapi dia g berusaha memutihkan dirinya dengan produk-produk pemutih sebagaimana yang banyak dilakukan wanita-wanita saat ini. Dia malah menunjukkan “the true power of beauty,” yakni kecantikan sejati bukanlah dari penampilan melainkan kebaikan hati dan kelebihan yang dipunyai oleh seorang wanita. Gua juga suka dengan kelihaiannya mengolah bahan-bahan menjadi makanan, bahkan dia mampu menciptakan masakan baru yang idenya dari masakan asli Indonesia! Terutama, gua paling suka sewaktu dia menyajikan masakannya sambil berkata, “This is it. Bla, bla, bla, ala Farah Quen.” Uwah, gua serasa mau mimisan ngeliatnya.

Lalu bagaimana dengan Master Chef? Tepat dugaan teman sekalian, sudah pasti yang menjadi fokus perhatian gua tidak lain adalah Chef Marinka. Awalnya gua g ngeh siapa Chef Marinka ini. Ini cewek, beneran bisa masak apa cuma modal tampang doang, y? tapi setelah gua liat iklan Chef Marinka masak gorengan, nyess, muka gua serasa disiram ama minyak panas. Gua langsung jatuh hati! *korban iklan

Sebenarnya, gua nonton Master Chef g 100% karena Marinkanya. Sebagaimana yang gua tulis di atas, gua emang hobi nonton acara masak-memasak. Nah, kelebihan Master Chef ini adalah karena acara memasaknya disajikan dalam bentuk kompetisi. Sehingga adrenalin penonton pun ikut diajak berpacu saat melihat kontestan memasak. “Masakannya bakalan dihina g y ama Chef Juna,” atau “Gila, mereka mau masak apa dari bahan bekicot?” mungkin adalah pertanyaan yang mampir di benak kita sebagai penonton saat mengikuti para kontestan yang sibuk memasak. Nah, saking seringnya gua nonton Master Chef, gua jadi bisa menarik beberapa kesimpulan tentang memasak.

1. Semua orang bisa memasak.

Masih ingat dengan film kartun besutan Walt Disney, Ratatoille? Yup, dalam film tersebut Chef Gusteu-inspirator si tikus-mengatakan bahwa, “Everyone can cook.” Sesuai dengan apa yang gua lihat di Master Chef,  profesi yang beragam ternyata bukan halangan bagi tiap kontestan untuk bisa memasak sebaik mungkin. Ada yang atlet parcour, manajer minimarket, sampai seorang office boy sekalipun. Hal ini menunjukkan kalau memasak itu bisa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, untuk memasak dengan baik dan ahli seperti para chef, tentu soal lain. Dibutuhkan kerja keras, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk terus belajar. Toh semua orang memulainya dengan masakan yang gosong ataupun asin.

2. Memasak butuh keahlian dan kreatifitas.

Kalau cuma memotong bawang, tentu setiap orang bisa. Tapi memotong bawang secara cepat dan halus, tidak semua orang mampu melakukannya. Makanya bisa dibilang kalau memasak itu butuh keahlian. Selain itu, memasak juga butuh kreatifitas. G mungkin kita memasak telor ceplok melulu seumur hidup kita, kan? Kita juga harus mampu mengolah telur tersebut  menjadi makanan lain yang lezat. Kita bisa lihat contohnya pada kontestan di Master Chef. Mereka harus mampu memasak sebuah hidangan dalam waktu yang ditentukan. Jelas, butuh keahlian untuk dapat melakukannya. Sebab kalau tidak, masakan mereka bisa saja tidak siap saat waktu habis. Mereka harus bisa mengolah makanan dengan cepat dan tepat. Selain itu, kreatifitas pun sangat dibutuhkan. Mereka harus bisa mengolah suatu bahan yang dipersiapkan menjadi makanan yang enak. Padahal terkadang bahan tersebut baru pertama kali mereka lihat ataupun mereka olah. Karenanya, butuh pemikiran cepat untuk menjadikan bahan mentah tersebut menjadi sebuah masakan.

3. Memasak itu seni tertinggi.

Lho, apa hubungannya memasak dengan seni? Jangan salah, seorang chef juga harus mempunyai jiwa seni yang tinggi. Misalnya saat masakan mereka selesai, maka mereka harus bisa menghias masakan mereka dengan bahan-bahan lain agar masakan terlihat indah dan menggugah selera. Jangan sampai masakannya lezat tapi tidak disentuh karena cara menyajikannya tidak mengundang selera. Dalam urusan menuangkan saus/kuah pun, seorang chef harus hati-hati. Tidak boleh ada kuah yang melenceng dari alur yang diinginkan ataupun ada setitik kuah yang mengotori piring di luar alur kuah. Ribet, ya? Namun begitulah, penilaian pertama sebuah masakan memang dari penampilannya.

4. Memasak (terkadang) butuh penguasaan bahasa asing.

Kalau ingin jadi chef profesional, kita harus memahami istilah-istilah dalam memasak ataupun bahan-bahannya yang terkadang dalam bahasa asing. Sejak sering nonton acara ini, gua jadi tahu beberapa istilah dalam hal masak-memasak. Seperti planting, yaitu tahap seorang chef meletakkan makannya ke atas piring. Kemudian eksekusi, ini istilah saat seorang chef memutuskan akan mengolah bahannya dengan cara apa. Belum lagi bahan-bahannya yang terkadang namanya dalam bahasa asing. Alhasil, seorang chef harus menguasai berbagai bahasa asing agar tahu apa bahan yang akan dia masak. Kan g lucu orang yang makan masakan kita tiba-tiba terjatuh dengan mulut berbusa hanya karena kita salah memasukkan satu bahan.

5. Masih banyak yang menganggap remeh cowok yang suka memasak.

Salah satu kontestan yang bernama Lucky bilang kalau dia tidak jadi masuk sekolah memasak gara-gara dilarang oleh orang tuanya. Di lingkungan sekitar kita pun pasti banyak kita lihat kejadian yang sama. Seorang cowok dianggap tidak jantan jika sering berada di dapur dan suka memasak. Apalagi jika cowok tersebut masuk SMK jurusan Tata Boga. Udah deh, cemooh dari orang-orang bakal g terhitung buatnya. Gua sendiri sering kena marah ama Mama gara-gara suka menghias makanan yang gua masak. Alasannya sih, masakan itu bukan buat mainan. Padahalkan gua juga pengen masakan gua pake signature dish gua sendiri, meskipun pada akhirnya gua jadi sayang buat makan masakan gua tersebut.

Yah, pada akhirnya sebuah masakan tetaplah sesuatu yang mesti dimakan oleh seseorang. Sebagus apapun bentuknya. Jika kita ingin menjadi chef profesional memang terkadang butuh banyak biaya untuk sekolahnya. Namun, banyak kok chef yang belajar secara otodidak. Yang harus diperhatikan adalah profesi chef saat ini sangat menjanjikan. Makanya, meskipun kamu cowok, jangan malu kalau suka memasak.

Jadi sekedar hobi ataupun ingin menjadi sebuah profesi, mulailah memasak dengan hati. Sebab pesan dari hati kita dapat tersampaikan melalui masakan yang kita masak.

Update:

Eh, ada teman gua yang baca tulisan gua, terus dia mau protes sedikit. Dia bilang, “Farah Quinn itu sebenarnya putih sampai-sampai dikira cina (pantesan sipit gitu), tapi berhubung dia suka item, dia berusaha menghitamkan kulitnya secara alami dengan berjemur & aktivitas di luar ruangan.”

Iklan

42 pemikiran pada “Antara Farah Quinn dan Marinka, mau pilih yang mana?

      1. Hohoho,, benar sekali itu.. hehehe..
        sayang cowok saya ga suka masak, sukanya nyela masakan saya.. ga kalah sadis sama chef Juna itu.. tapi kalah cakep sama chef Juna #plaaak.

  1. jadi kamu suka masak ya lung?? waaah, berarti dhe harus belajar banyak sama kamu dong.. #tingtingting 😉

    pertanyaannya udah dhe jawab, tapi wp dhe lagi aneh lung, tiba2 kok ilang kata2nya..

  2. Gue pilih 22’nya 😆
    Ah…andai aja bisa bertemu dengan kedua malaikan itu, pasti deh bakal gue kasih TTD.
    Oke..oke, gue ralat…pasti gue bakal nyembah minta TTD ke mereka 😆

  3. Memasak juga sebenarnya harus ditanamkan dari dini. Saya inget beberapa sekolah di luar negri memilii mata pelajaran health and education. Di sesi pelajaran mengenai health, biasanya ada acara masak-masak yang tujuan sebenarnya membuat makanan yang bergizi. Tapi di balik itu, anak-anak remaja bisa termotivasi untuk belajar memasak..

  4. Kenapa gua suka Chef Farah Quin, jawabannya sudah jelas teman, gua terpikat sama kecantikannya yang asia banget.

    suka kecantikan ato itunya???hehehe

    kalo gue lebih farah-quinn, kulitnya eksotis banget, jadi waktu itu dia datang ke kampus gua, nah hari itu ada acara **B Fair, kebetulan dia dateng buat meriahin acara, dan hari itu adalah hari jumat, Dia demo masak pukul setengah 12, ampe 12 lewat 5, ternyata cowok2 muslim masih banyak yang ngeliatin mbak FQ, padahal sholat jumat udah mau dimulai.hahahaha

      1. ulan

        catatn dikit deh buat kalian,,, kulit farah quin aslinya putih (khas org palembang yg memang secara fisik hampir mirip sama org chines) dan yg aku tau farah juga keturunan chines,,, cuma memang menghitamkan kulit nya dgn cara berjemur

        sedikit info yg ku dpt dr acara gosip dan farah membenarkan nya

  5. saya seh sering masak sendiri disini, awalnya dikarenakan kondisi sih: beli makanan di luar muahaaalll disini. Biar irit harus masak sendiri deh, hehehe 🙂 Dan lama-lama enjoy juga.

    Btw, saya ga gitu ngikutin Masterchef Indonesia. Entah kenapa lebih suka yg versi Australianya 🙂

      1. haha, benar. Apalagi di Eropa. Ngiritnya bisa lumayan antara masak sendiri vs makan di luar. Cuma kata teman yang pernah tinggal di Singapore sih, disana mending makan diluar toh habisnya juga sama aja 🙂

        Bedanya, hmm. Yang Indonesia saya cuma liat episode pertama aja sih, jadi mungkin komentar saya ga terlalu valid. Cuma saya rasa yg versi Indonesia agak “kebanyakan” unsur dramanya. Sementara yang Australia lebih menjual “mimpi”. 🙂 Dan tantangan-tantangannya yang di Australia keren-keren tuh. Ada yang harus ke New York, masak buat Dalai Lama (Dalai Lama beneran loh), dll 🙂

  6. justru cowok yang bisa masak itu memiliki nilai tambah, menurutku sih.. Perihal cowok dicemooh karena suka memasak itu hanyalah pola pikir mereka saja yang buruk, atau bisa dibilang juga karena mereka iri.. Kebanyakan chef juga cowok kan.. 😀

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s