Episode Empat Belas: Someone Like You

(Sebelumnya, jika ingin mengetahui kisah lengkap Dimi dan Denova. Silakan klik link ini.)

Damian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu ada sesuatu yang salah pada dirinya. Ada sesuatu yang menetas, tumbuh, dan meruak di dalam hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Damian tidak bisa memungkiri, intensitasnya dengan Dimi semakin lama semakin membuat dirinya terlena. Terlena akan spontanitas yang dimiliki gadis tersebut, terbuai akan semangat yang Dimi tularkan padanya. Tapi Damian tahu, tak seharusnya rasa ini bersarang di dadanya. Karena ia tidak ingin melukai hati Denova, adiknya. Namun apalah daya, pesona Dimi ibarat magnet yang semakin menarik Damian pada rasa tersebut. Seperti kali ini.

Damian masih menunggu Dimi di teras rumah. Mereka akan menghadiri pertemuan di Balai Desa dengan beberapa petani untuk sekedar berbagi cerita perkembangan benih padi yang Dimi ciptakan. Namun sudah dua puluh menit Damian menunggu, Dimi belum juga keluar.

“Ah, cewek selalu saja lama kalau soal dandan,” gerutu Damian agak keras.

“Namanya juga cewek, wajar kan kalau ingin tampil cantik,” sebuah suara di belakang Damian membuat ia kaget. Ketika ia membalikkan badan, ia terpaksa menahan napas sesaat. Dalam balutan baju biru toska, Dimi terlihat begitu anggun. Jilbab merah muda tampak padu pada Dimi. Belum lagi bros berbentuk cendrawasih yang menambah manis senyum Dimi.

“Kok bengong? Yuk, katanya udah telat?” Dimi menyadarkan Damian dari pesona sesaat.

“Eh, eh iya. Yuk, buruan.” Damian membukakan pagar untuk Dimi. Mereka pun beranjak menuju Balai Desa ditemani riuhnya suara jangkrik.

*             *              *

Denova masih saja memandangi lukisan cendrawasih yang tergantung di kamarnya. Entah sudah berapa menit hal tersebut ia lakukan, hanya saja dalam bayangannya justru sketsa Dimilah yang terpampang di lukisan. Denova menghembuskan napas berat. Ia membalikkan badan dan memandang langit-langit. Ia teringat akan kejadian sewaktu tasyakuran Damian. Ia tahu ia salah, melukai Rindang di hadapan Dimi. Tapi apa daya, perasaan tersebut tak mampu lagi ia bendung. Rasa cintanya pada Dimi menyeruak tanpa malu-malu lagi.

“Ah, Dimi gimana kabarnya ya? Sudahlah buat Rindang sedih, eh Dimi juga malah marah. Bego banget sih kamu Den?” Denova menepuk jidatnya, menyalahkan perbuatan tololnya tempo hari.

“Tapi Diminya juga salah, sih. G mau terus terang gimana perasaannya ama aku. Ya jelas akunya penasaran. Serasa digantung-gantung gimanaaa gitu.” Denova masih menceracau sendiri. Tabiat anak bungsunya kumat. Ia justru tidak ingin disalahkan atas ulahnya sendiri.

“Ah, sudahlah. Toh nanti sore Bang Dam pulang. Mending tanya langsung sama Bang Dam gimana kabar Dimi. Hehehe.”

“DENOVA, UDAH BERAPA KALI MAMI BILANG RAPIKAN KAMARNYA?” hardikan Mami membuyarkan lamunan Denova. “Kamu ini ya, udah mau masuk perguruan tinggi masiiih aja kaya anak kecil!” Mami beranjak mendekati Denova dan menjewer telinganya.

“Iyaaaa, Miii. Ampuun.” Mohon Denova memelas.

*           *             *

Denova masih asyik membereskan kamarnya ketika Damian masuk. Berhubung Denova membelakangi Damian, Denova tidak menyadari kalau kakaknya sudah duduk di pinggir kasur. Ketika Denova membalikkan badan, jelas ia kaget.

“Eh, Bang Dam. Bikin kaget aja. Ketok pintu dulu kek, jangan nyelonong gitu aja.” Denova meletakkan majalah digenggamannya ke atas rak. Ia ikut duduk, tetapi ia memilih untuk duduk di kursi meja belajarnya.

“Gimana penelitiannya, Bang?” tanya Denova sambil memandangi Damian. Entah mengapa, kali ini wajah Damian tak seceria biasa. Ada mendung yang membayang di wajah abangnya. “Bang?” ulang Denova.

“Eh, eh iya Den. Penelitiannya lancar-lancar aja. Masih menunggu masa panen. Oh, ya Dimi kirim salam.”

“Iya, Bang? Gimana kabarnya? Dia masih marah g?” Mendengar kata “Dimi” ibarat letupan-letupan bagi Denova. Damian menggeleng.

“Kayaknya enggak deh, Den. Dia udah biasa aja, tuh.” Damian kembali termenung. Matanya kosong seolah-olah hanya badannya yang berada di kamar Denova.

“Abang kenapa, sih? Ada masalah? Dari tadi kok kayaknya sedih mulu?” Lama-lama Denova bingung juga menghadapi ulah kakaknya.

“Abang mau ngomong sesuatu sama kamu. Sebelumnya abang minta maaf. Abang tahu kamu sayang banget sama Dimi. Dan abang g mau nyakitin kamu, adek abang sendiri. Tapi abang g mau menyembunyikan hal ini dari kamu, karena kita keluarga.”

“Maksud, Abang? Abang bicara apa, sih? To the point aja lah!” Denova tidak sabaran dengan kata-kata yang terlontar dari mulut kakaknya.

“Abang suka sama Dimi, Den.” DEGG!! Wajah Denova berubah. “Tapi kamu g usah khawatir, abang akan berusaha membunuh perasaan abang pada Dimi. Karena abang lebih sayang sama kamu, adek abang.” Damian berusaha tersenyum, senyum yang jelas-jelas tampak dipaksakan di mata Denova.

“Dimi suka sama kamu, abang tahu itu. Kamu pun sayang sama Dimi. Maka sudah semestinya abang memangkas habis perasaan sayang abang sama Dimi. Kamu g usah takut, Den. Dimi menunggu kamu.”

Damian menepuk pundak Denova yang terdiam di atas kursinya. Damian memilih keluar, membiarkan Denova berperang dengan batinnya dan mencerna baik-baik kata-katanya tadi.

*              *               *

Dimi masih asyik berkutat dengan laporan penelitiannya, sementara Ainin tertidur pulas tak jauh dari tempatnya duduk. Suasana di luar agak berbeda, sunyi kali ini entah mengapa begitu mencekam. Sudah tiga hari berlalu sejak Damian menyampaikan salam dari Denova pada Dimi, tapi efeknya membuat Dimi bersemangat hingga sekarang. Dimi baru saja akan menambah kopi di gelasnya ketika pintu depan bersuara. Siapa? Malam-malam begini? Dimi pun beranjak membuka pintu, tampak sesosok tubuh yang ia kenal.

“Den? Ngapain kamu di sini? Kapan datang?” tanya Dimi heran pada Denova yang berdiri di depan pintu. Denova tersenyum, senyum yang entah mengapa terlihat begitu sedih bagi Dimi.

“Kamu bisa ikut aku sebentar, Dim?”

“Tapi ini sudah malam.” Dimi melirik jam dinding.

“Aku mohon, kali ini saja. Belum tentu suatu saat kamu bisa memenuhi permintaan aku lagi, kan?” Paras Denova tampak memelas yang membuat Dimi tak tega.

“Baiklah.”

Dimi dan Denova berjalan menyusuri jalanan kampung yang lengang. Di kanan-kiri, suara kodok meningkahi langkah mereka. Di dekat pematang sawah, Dimi berhenti. Ia butuh penjelasan.

“Ada apa, Den?” Denova tidak menjawab, ia malah mendekati padi-padi yang mulai menguning dan menyibaknya. Tiba-tiba puluhan kunang-kunang beterbangan ke langit. Suasana yang tadinya kelam, kini tampak semarak dengan kerlipan kecil dari hewan tersebut.

“Kamu tahu Dim? Aku sudah menunggu jawabanmu sejak lama. Tapi kamu seolah-olah sengaja menggantung perasaan aku.” Dimi baru saja akan menjawab, namun jari Denova berhenti di bibirnya. “Ssst. Aku tidak minta  kamu menjawabnya sekarang.” Dimi memiringkan kepalanya, tidak mengerti.

“Kesempatan tidak datang dua kali, Dim. Aku bersyukur pernah menyatakan perasaanku kepadamu, meski kamu membalasnya dengan tamparan. Setidaknya aku telah menyatakan apa yang aku rasa. Dan yang mesti kamu tahu, perasaanku padamu sama seperti kunang-kunang ini.” Denova membuka genggamannya. Entah darimana asalnya, seekor kunang-kunang tampak berkerlipan di tangannya.

“Perasaanku tidak meminta balasan, karena kerlipnya begitu kuat memenuhi hatiku. Tapi jika suatu saat nanti banyak cinta yang datang mendekat padamu, maukah kamu tetap menjaga kerlip tersebut? Sudikah kamu tetap mengingatku sebagai bagian dari kisah masa lalumu?”

Dimi tak kuasa menjawab, mulutnya seolah terkunci. Denova kembali tersenyum, entah kenapa Denova terlihat begitu putih malam ini. Atau pucat?

“Kamu sakit, Den?” Dimi akhirnya bersuara. Dimi berusaha menyentuh tangan Denova, dingin. Denova menggeleng.

“Dim, jika memang kita tak bisa bersatu. Maukah kamu memenuhi permintaanku? Maukah kamu menempatkan cahaya lain di hatimu, Dim? Cahaya yang berasal dari abangku, Damian. Dia juga menyayangimu, Dim.”

Sebelum Denova berbicara lebih jauh lagi, Dimi merasa sudah waktunya ia mengatakan yang sebenarnya. Bahwa sesungguhnya ia pun menyayangi Denova. Meskipun awalnya hanya ingin membuat Denova penasaran, namun ia justru terjebak dengan permainan yang ia ciptakan sendiri. Ia tak bisa memungkiri kehadiran Denova mampu menghapus luka yang pernah ditorehkan Mas Bagas di hatinya. Dimi baru saja akan bersuara ketika ponselnya meraung. Damian, demikian nama yang tertera di layarnya. Dimi beranjak sejenak dari Denova untuk mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?”

“Halo, Dim. Aku, aku harus pulang secepatnya Dim. Aku mau minta izin pulang.” Suara Damian terdengar begitu gelisah. Kekalutannya membuat Dimi cemas.

“Ada apa?”

“Aku baru dapat kabar, Denova dan Diana kecelakaan di tol Cipularang. Dan, dan, Denova meninggal, Dim.” Runtuh sudah ketegaran yang berusaha dijaga Damian saat berbicara dengan Dimi. Terdengar isak tangis di seberang sana. Dimi tercenung, bagaimana mungkin. Bukankah Denova bersamanya? Ia membalikkan badannya. Lengang.

“Den?”

*               *                 *

Mendung memayungi langit. Desauan angin mengibar-ngibarkan jilbab Dimi yang tertegun di depan makam Denova. Sementara di belakangnya, pohon-pohon pinus bergoyang lembut mengikuti alunan angin.

Dua tahun telah berlalu sejak kecelakaan tersebut. Meski nyawa Denova tak terselamatkan, Diana masih bisa menghembuskan napas hingga sekarang. Saat kecelakaan itu terjadi, Denova sengaja mendorong Diana dari kursi penumpang ke rerumputan. Sehingga Diana hanya mengalami patah tulang dan geger otak ringan. Denova sendiri kemudian menabrak pagar pembatas tol dan mobilnya terbalik beberapa kali sebelum akhirnya berhenti terhempas keras di aspal.

Dimi berusaha memenuhi janjinya kepada Denova. Ia menerima lamaran Damian satu tahun lalu, meski ia tidak memungkiri ia melihat diri Denova pada Damian. Dimi meremas jarinya. Dari sela-sela jari, tampak sebuah cincin berkilau disinari mentari. Bagaimanapun, hati Dimi masih saja merasa sakit hingga sekarang. Ia menyesal tidak sempat menyatakan perasaannya pada Denova.

“Den, seandainya kamu tahu kalau aku juga menyayangimu. Atau memang kamu sudah tahu, Den? Tapi sengaja diam menunggu kata tersebut keluar dari mulutku sendiri? Ah, seandainya saja waktu bisa kuulang kembali.” Dimi berbisik pada makam Denova, kemudian meletakkan karangan bunga yang ia bawa dari rumah.

“Selamat jalan, Den. Kerlip kasihmu kan selalu kujaga agar tetap berkedip.”

*             *                *

Belakangan ini cuaca tidak menentu, terkadang panas kemudian hujan menjadi jeda. Seperti saat ini. Dimi menunggu di dekat mobil sambil melihat arloji. Hari ini gilirannya menjemput anaknya yang baru masuk sekolah. Tidak beberapa lama, lonceng pun berbunyi. Anak-anak sekolah berhamburan riuh. Salah seorang dari mereka mendekati Dimi.

“Bunda, bunda. Hari ini seru banget, deh. Aku dapat teman baru, namanya lucu lho Bun. Aku kenalin ya?” Kurcaci kecil Dimi tampak begitu bersemangat. Di belakangnya, tampak mengekor seorang gadis kecil.

“Amel, jangan ngomong gitu ah. Masa nama temannya sendiri dibilang lucu?”

“Kalau bunda g percaya, tanya aja sama dia.” Amel menarik temannya ke depan Dimi.

“Namanya siapa?” tanya Dimi pada gadis kecil di hadapannya. Gadis kecil tersebut tampak malu-malu sebelum meraih tangan Dimi.

“Dimi, tante. Namaku Dimitri.” Jawaban anak itu membuat Dimi tercenung, sementara Amel malah cengengesan di sampingnya. Berarti maksud Amel namanya lucu adalah karena nama mereka berdua sama.

“Dimi. Ayo, pulang.” Tiba-tiba seorang pria memanggil Dimi kecil. Suara yang begitu familiar. Dimi menoleh. Apa yang ia lihat membuat ia tertegun.

“Mas Bagas?” bisiknya lirih.

*             *                *

Tulisan ini diikusertakan dalam Giveaway Suka-suka Dunia Pagi yang diadakan oleh Amel.

Catatan:

Mel, maaf sebelumnya kalau ceritanya kepanjangan. Soalnya di kisah kamu banyak banget tokohnya. Jadi biar g ada detail cerita yang tertinggal serta tercipta ending yang aku inginkan, mau tidak mau ceritanya agak panjang gini. Maaf kalau g puas ya, Mel. Hehe

42 pemikiran pada “Episode Empat Belas: Someone Like You

  1. Itu yang terkapar Den? ganteng jugaa. #eh..

    dulu sempet kepikiran ngejodohin Bang Dam sama Dimi sih, tapi ga jadi.. Bang Damnya buat mel aja.. #plaaak..

    makasih udah berpartisipasi ya bang.. semoga beruntung😀

  2. Saran sob, buat penulisan kata “tidak” atau “enggak”, menurut saya lebih baik jangan disingkat “g” saja, tapi bisa dengan “ga”, “gak” atau, “nggak”.
    Soalnya kalo cuma “g” saja, nanti bisa rancu pemahamannya (menurut saya).

    Misalnya nih, Teman2 saya sering menggunakan huruf “G” untuk menyingkat kata “laGi”. Contoh: “kmu G pa??” (artinya: “kamu laGi ngapain??”).

    But, it’s just my advice anyway..🙂

  3. Wawawawawawaw… hanyut aku.

    Salah tebak aq alur ceritanya sehingga q kasih jempol 5, tp q hanya punya 4 pinjem kamu satu ya ^^/

    selain itu aq suka kata2 ini bukan maksud untuk menjelekkan tapi dandan bagi wanita seperti miracle bagi lelaki kekasihnya…

    ampe lupa.. salam kenal ya..

    PakBuz ^^/

  4. Ping-balik: Detik-detik penutupan GA Suka-suka « Dunia Pagi

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s