Badut Pelukis

clown
credit

Fay membuka matanya perlahan. Perih menampar-nampar sekujur tubuhnya. Memaksanya mengeluarkan erangan tertahan. Pandangannya masih buram. Dia berusaha mengumpulkan ingatan. Tapi yang Fay ingat cuma dia kemalaman dan saat melewati gang sempit, ada bau aneh membekap hidungnya. Lalu kelam.

Saat penglihatannya mulai jernih, baru Fay sadar di mana dia berada. Fay diikat di tiang. Tangannya dibebat ke atas. Dia panik begitu menyadari tubuhnya tak ditutupi selembar kain pun. Lamat, terdengar olehnya musik mengalun.

“Ah, sudah sadar kau rupanya.”

Sebuah suara mengagetkan Fay. Beberapa langkah dari Fay, berdiri seseorang menghadap kanvas. Penampilannya ganjil. Pria tersebut (menilik dari suaranya) berpakaian gombrong. Warna-warni motif polkadot. Rambutnya keriting kemerahan. Seperti spagheti penuh saus yang ditumpahkan ‘blek’ di atas kepala.

Hidungnya bulat merah, serupa tomat plastik. Pupur mukanya tebal, membuat muka pria tersebut tampak menyeramkan. Meski bibirnya digincu tebal dan sengaja dilukis lengkung ke atas. Sosok tersebut mengingatkan Fay pada badut yang sering dia temui di pasar malam.

“Kau tahu, manis. Lukisan dan musik berkelindan dalam kesatuan bernama seni. Jika musik membius pendengarnya dengan titian nada, maka lukisan memukau penikmatnya dengan sapuan warna dan bentuk.”

“Yang kau dengar itu, Moonlight Sonata. Salah satu mahakarya Beethoven,” dia menyapukan kembali kuasnya di kanvas, “untuk menghasilkan mahakarya, butuh model yang tepat. Dan untuk lukisanku ‘Derita Bunda Maria’, kau model yang sempurna!”

Sang badut meletakkan kuas dan paletnya di atas meja. Badut kemudian mengambil dua buah penjepit. Tubuh Fay bergeletar kala melihat badut melangkah ke arahnya. Pekik Fay terhambat lakban di mulut sewaktu kedua puting payudaranya dijepit. Bulir-bulir air mata netes membasahi pipinya, terus ngalir melewati puncak dada, lewat lengkung pusar menuju bawah. Badut tersebut mendeguk ludah. Seringainya terbit.

Kali ini badut mengambil batang berkabel. Mencucukkan ujungnya pada setop kontak. Air mata berbaur peluh makin deras merabas di tubuh Fay. Saat badut menyentuhkan batang tersebut di selangkang Fay, Fay melolong panjang. Lolongan yang tertinggal di kerongkongan. Perih, sakit, marah, takut melebur jadi satu. Ngalir dari selangkang ke sekujur tubuh.

***

Beberapa malam belakang, peristiwa tersebut kembali menyatroni Fay. Fay sebenarnya telah berusaha menghapus peristiwa pahit tersebut dari pikirannya.

Saat badut melepas ikatan dan meninggalkannya dengan sebungkus nasi, waktu itu dia melihat kesempatan kabur. Dia balut tubuhnya dengan kain rombeng lalu dia pecahkan jendela ruangan. Fay berlari meninggalkan tempat terkutuk tersebut menuju pos polisi terdekat. Sayang, saat polisi datang menggerebek, badut pelukis telah kabur. Gudang itu kosong. Bahkan lukisan-lukisan korban lainnya yang sempat Fay lihat, pun lenyap.

Fay menatap pantulan dirinya di cermin. Dia elus payudaranya perlahan. Peristiwa itu telah lama berlalu, tapi seperti baru terjadi kemarin. Sesegar sayuran yang dibasahi air. Sambil mengancingkan kemejanya, Fay merutuki ide manajer. Entah dari mana mulanya, manajer restoran tempat dia bekerja memutuskan menarik pelanggan lebih banyak dengan menyediakan paket ulang tahun lengkap dengan badutnya. Dan ide tersebut membuat Fay dihantui mimpi buruk.

Fay masih berkutat dengan lap basah serta kaca yang kotor. Dari ruangan sebelah, menjalar sorakan anak-anak dari celah pintu menuju tempatnya. Fay menghentikan pekerjaannya sejenak. Bibirnya mengerucut. Kemarin, seorang badut telah terpilih. Dan hari ini, kali pertama paket ulang tahun dipesan.

Ruangan sebelah semarak. Bagian dalam kaca ditempeli kertas mengilap. Merah, hijau, serta kuning. Digunting dengan bentuk berbeda. Sudut-sudut ruangan dipenuhi balon. Ada yang berbentuk kuda, orang, pistol, atau cuma ditumpuk menggunung. Dindingnya tak luput dari keceriaan anak kecil. Sengaja ditempeli karakter kartun terkenal.

Anak-anak duduk rapi menonton pertunjukkan si badut. Pertama-tama, si badut menyuguhkan sulap kartu. Sulap yang begitu sering dilihat Fay. Bahkan Fay hapal triknya. Lalu badut tersebut mengeluarkan beberapa bola beda warna. Melemparnya ke atas dan menangkapnya dengan gerakan memutar.

Fay mengesah. “Membosankan, inikah yang dikatakan manajer ide cemerlang? Melihatnya saja aku muak.”

Namun dunia anak tak serupa semesta orang dewasa. Mereka tetap tertawa gembira. Fay meremas kain lapnya. Tawa seperti itu yang direnggut darinya. Tangan Fay masih terus mengelap meja, tapi matanya tak lepas ke ruang sebelah.

Fay terpaku kala sang badut mengeluarkan kertas gambar besar, menunjuk seorang anak untuk ke depan (sepertinya, suara si badut terhalang pintu), lalu mulai melukis si anak dengan spidol hitam. Anak-anak bertepuk ketika badut memamerkan hasil lukisannya. Waktu itulah, matanya berserobok dengan Fay. Sang badut menyeringai. Fay bergidik dan gegas meninggalkan tempatnya ke belakang.

“Siapa sih namanya?” tanya Fay pada rekan kerjanya.

“Siapa?”

“Itu, si badut baru.”

“Oh, ga tau juga. Kan baru kepilih kemarin, belum sempat ngobrol ama kita-kita. Kenapa emangnya?”

“Ga, ga kenapa-kenapa.”

Fay mengangkat ember kotor dan membuang isinya. Dia meneruskan pekerjaan, tapi pikirannya tak lepas dari badut baru tersebut. Sesekali, dia mencuri pandang ke ruangan pesta, tempat badut beristirahat.

Fay melotot melihat temannya mendekati si badut dan berbincang-bincang. Fay ingin tahu isi pembicaraan mereka. Sepertinya si badut menceritakan hal yang lucu. Kentara dari mimik muka temannya. Temannya kadang tergelak dengan perkataan si badut yang tak bisa Fay dengar.

“Dia baik, kok,” tukas temannya selesai berbincang dengan si badut, “dia warga baru di sini. Dia ke kota ini untuk mencari seseorang. Dia dengar, orang tersebut tinggal di kota ini. Makanya, sambil mencari orang tersebut, dia mencari pekerjaan. Kebetulan, dia memenuhi persyaratan yang diminta manajer.”

“Emangnya dia cari siapa?”

“Entahlah. Pacarnya, mungkin? Sudahlah, aku mau kerja dulu.”

Fay mengangguk. Dirinya semakin penasaran dengan si badut. Apa mungkin badut tersebut sama dengan badut dari masa lalunya? Sayang, Fay tidak begitu ingat fisik badut yang menculiknya dulu.

Malam makin larut. Fay masih sibuk mengelap meja yang kotor terkena tumpahan kopi pengunjung. Tinggal dia dan rekan kerjanya. Sedari tadi, pintu restoran sudah dipasangi tanda “close”.

“Fay, aku duluan ya. Ga apa-apa, kan?”

“Iya, ga apa-apa. Tutup lagi ya pintu belakangnya.”

“Oke.”

Selesai sudah tugasnya. Fay mengelap peluh yang mengucur di dahi. Meski ruangan berpendingin, toh keringat tetap saja ngalir kalau kita bekerja dengan giat. Fay mencuci tangannya dan menuju loker. Mengganti baju kerja dengan pakaian biasa. Saat itulah, dia mendengar pintu belakang berdebam. Hening menggelayut. Fay terpaku.

“Siapa?”

Fay mengintip dari ruang loker. Anehnya, tak ada orang.

“Ren, itu kamu? Jangan bercanda dong, ah.” Fay memanggil nama temannya namun tak ada sahutan.

Ah, mungkin tadi aku salah dengar.

Fay memasukkan kunci motor ke saku dan keluar dari ruang loker. Sekali lagi, dia mesti mengecek restoran dan mematikan beberapa lampu. Di depan, samar-samar dia mendengar bunyi senandung. Alunannya menyusup ke liang telinga Fay. Senandung tersebut makin jelas, Fay tersentak. Dia kenal nada tersebut.

Moonlight sonata!

Fay menggelugut. Dia mencari pegangan untuk menahan tubuhnya. Dia seperti dihempaskan ke masa lalu. Di ujung ruangan, sesosok badut berkacak pinggang. Seringainya memuakkan.

“Masih ingat aku?”

Fay mendeguk ludah. Terbayang kembali olehnya masa penyiksaan dirinya oleh si badut.

“Aku mencarimu kemana-mana.”

“Untuk apa?”

“Untuk apa? Kau satu-satunya yang selamat dariku. Bagaimana mungkin kubiarkan kau bebas.”

“Tapi, aku bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya!”

“Mungkin. Kau modelku yang sempurna. Berikan aku kesempatan merampungkan lukisanku.”

“Kau, gila!”

Sang badut terkekeh. “Memang, tidak semua orang memahami seniku,” dia melanjutkan langkahnya menuju Fay.

Fay memekik. Dia raih apa saja yang ada di dekatnya. Dia lemparkan vas di atas meja ke arah badut lalu berlari ke belakang. Baru sampai pintu, rambutnya direnggut ke belakang hingga terjengkang. Badut berdiri mengangkangi tubuhnya.

“Gara-gara kau, mahakaryaku tak pernah selesai!”

Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Fay.

“Gara-gara kau, ‘Derita Bunda Maria’ tak rampung-rampung!”

Plak!

Tamparan kedua, mendarat di pipinya yang lain. Fay berontak. Dia tak ingin disiksa seperti dulu lagi. Dia lengkungkan tubuhnya kemudian menendang kuat-kuat selangkangan si badut.

Badut mengaduh dan jatuh terduduk. Tak Fay sia-siakan kesempatan. Gegas dia lari ke pintu belakang. Namun pintu terkunci rapat. Fay lemas. Rambutnya acak-acakan. Beberapa helainya menempel di muka akibat tangisan dan keringat yang basah. Fay beringsut mencari tempat bersembunyi.

“Di mana kau bersembunyi, sayang?” Terdengar suara badut menggema.

Fay memeluk lututnya dan menahan isak. Bunyi benda berjatuhan. Sang badut muntab. Dicampakkannya benda-benda di dekatnya.

“Ke sini kau, aku butuh ekspresimu yang menderita!”

Badut menemukan Fay sembunyi di balik rak cucian. Dijambaknya rambut Fay kasar. Fay berteriak, tangannya menggerapai-gerapai. Badut mendorong kepala Fay ke dinding. Fay mengaduh ketika bunyi bentur kepalanya terdengar.

Badut menyeret Fay ke arah depan. Fay meronta-ronta. Kakinya menendang kesana-kemari. Kalap, ditangkapnya tangan badut dan digigit kuat-kuat.

“Argh!!”

Fay lepas dari jambakan badut. Dia berlari ke meja dapur. Mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan. Badut yang marah menerjang ke arahnya. Langsung Fay tikam pisau dapur yang dia temukan ke perut badut.

Badut menghentikan langkahnya. Matanya melotot menyadari pisau yang tertancap di perut. Badut tersebut jatuh lalu geming di tempat.

Fay terdiam. Dia menyentuh luka di kepalanya. Bibirnya meringis. Fay membalikkan badan, menuju pintu. Tapi ada yang menahan langkahnya. Badut di lantai menyeringai, mencengkram kakinya kuat.

Fay muak. Dia meludahi badut. Dengan kakinya yang lain, dia tendang kuat-kuat kepala badut hingga berderak. Lalu dicabutnya pisau yang tertancap dan duduk di atas tubuh si badut.

“Ini balasan untuk semua mimpi buruk yang kau hadirkan.” Fay menusuk mata si badut. Lagi dan lagi. Hingga wajah si badut tak berbentuk lagi.

1.455 kata

Buat PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

Iklan

18 pemikiran pada “Badut Pelukis

  1. ow, jadi ngebayangin cerita thriller Scream neh. tokoh bertopeng ditukar dengan badut. seru! 🙂

    sulung, ada beberapa inkonsistensi dalam cerita ini. yang aku catat adalah penggunaan kata ganti orang ketiga “dia” dan “ia”. lalu pemakaian kata “ngalir” dan “mengalir”. 😉

    dan ada 1 yang bikin keningku berkerut saat mulai membaca yaitu saat Fay menebak pakaian si badut berdasarkan suaranya. kok bisa? 🙂

    oya, satu lagi. maha dan karya bukannya ditulis menyambung ya? cmiiw 🙂

    1. koreksi EYD-nya aku catat ya, bang.

      Maksud bang Riga kalimat yang ini, ya? >>> Pria tersebut (menilik dari suaranya) berpakaian gombrong.

      Maksud aku di situ, Fay menebak badut berjenis kelamin pria dari suara badut saat berkata “Ah, sudah sadar kau rupanya.”
      Kan biasanya suara pria lebih berat.
      Jadi kata pria tersebut terkait dengan kalimat di dalam kurung, sedangkan kalimat dalam kurung terkait dengan kalimat di bagian atas. Begitulah.
      Makasih koreksinya, bang 🙂

  2. wow.. Sulung, wow..
    Merinding banget baca ini. Bagus!
    Buat saya, paling adegan terakhir terkesan lambat, mungkin sedikit narasi atau deskripsi di paragraf-paragraf terakhir adegan, bisa buat suasanannya makin mencekam *halah 😀

  3. junioranger

    Cerpen horor ini, mbayangin ketegangan bak nonuon film SCREAM, dll. Kok aku ngerasa ya clue Bahwa badut itu mmng badut yang dulu kecepetan. Hehe.

  4. Sebenarnya saya menunggu kejutan besar, kenapa harus Fay untuk merampungkan “Derita Bunda Maria’?
    “Bunda Maria” gitu loh..
    Sang Suci, yang menurut saya, seorang pelukis akan punya alasan khusus untuk mencari modelnya.
    Tapi dalam dunia fiksi, semua sah saja, terserah penulis merekanya.

    Secara tulisan, saya salut dengan deskripsinya.
    Good luck, Mas!

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s