[Berani Cerita #24] Vivienne

credit
credit

Vivienne melemparkan sebuah benda ke arahku. Aku tergeragap. Segera kusingkirkan koran yang kubaca dan mengambil benda yang jatuh di pangkuanku. Bentuknya seperti pensil tapi ada dua buah garis di tengahnya.

“Apa ini?” Mukaku membiaskan keheranan.

Test pack! Aku hamil!” balas Vivienne sambil bersungut-sungut. Ia duduk di sebelahku sambil melipat kedua lengannya di dada. Demi mendengar pengakuannya, hilang sudah kekesalanku akan ulahnya tadi. Seulas senyum kukulum di bibirku.

“Kamu hamil? Benarkah?”

“Buat apa aku bohong!?” Vivienne malah membentakku. Dengan kasar, disingkirkannya tanganku yang melingkar di bahunya. Dengan langkah dihentak-hentak, ia bersigegas pergi ke kamarnya.

“Blam!”

Aku menghela napas saat mendengar bunyi pintu yang ia banting. Ah, Vivienne. Sampai kapan kau mau bersikap seperti ini? Tanpa kusadari, aku meremas koran yang kuletakkan di sampingku.

Meski kami telah cukup lama menikah, namun pintu hati Vivienne tak juga terbuka untukku. Aku mengenal Vivienne dari Erica. Dari Erika pula aku tahu kalau Vivienne sudah punya kekasih. Tapi aku tak bisa berbohong kalau aku tertarik dengan pesonanya. Sudut bibirnya yang naik saat ia tersenyum, keningnya yang berkerut ketika ia tidak setuju dengan suatu hal, bahkan rahangnya yang mengeras sewaktu ia menahan kesal pun membuatku terpikat.

Aku sadar, aku tak mungkin memiliki dirinya. Karenanya kugunakan cara lain untuk merebutnya. Perusahaan milik keluarga Vivienne diambang kebangkrutan. Dengan iming-iming pemberian pinjaman, kudekati ayahnya. Ayahnya setuju untuk menikahkan Vivienne denganku. Saat Vivienne mengetahui rencana tersebut, bibirnya terkatup lama. Meski kepalanya mengangguk, ada lidah api yang terpercik dari matanya saat memandangku.

Sebelum dirinya hamil, Vivienne sudah cukup kasar kepadaku. Bentakan, makian, gerutuan biasa kudengar dari bibirnya. Kini saat ia hamil, sikap buruk Vivienne makin menjadi-jadi. Tak jarang ia melempar barang di dekatnya saat amarahnya memuncak. Aku memilih mengalah dan menjauh darinya bila marah-marahnya kumat.

Seperti biasa, di penghujung tahun lemburku makin menjadi-jadi. Banyak laporan yang mesti diselesaikan sebelum akhir tahun. Saat aku pulang ke rumah, Vivienne sudah tidur. Aku masuk ke dalam kamar diam-diam, takut membangunkannya. Kuselimuti tubuhnya, tak lupa mencium keningnya lamat. Kupandangi wajahnya dalam temaram cahaya kamar.

“Vivienne, entah kapan kau mau membuka hatimu padaku. Aku tahu, aku banyak bersalah kepadamu. Memaksamu menikah denganku, menganggap harta bisa membeli sedikit lahan di ruang hatimu. Tapi aku keliru. Kau tetap tak berubah. Nyaris saja aku menyerah dan berpikir untuk melepasmu. Pikiranku berubah ketika kau katakan kehamilanmu. Aku berharap, seorang anak bisa mengubah pendirianmu. Dan semoga harapanku terkabul kelak.”

Setelah merapikan selimutnya sekali lagi, aku menuju ruang tamu. Beberapa hari belakangan, Vivienne mengatakan kalau ia tak ingin tidur seranjang denganku. Dan aku lagi-lagi mengalah.

Sebelum aku sampai di luar, Vivienne telah menghambur dan memelukku dari belakang. Ternyata ia belum tidur dan mendengarkan perkataanku tadi. Kuputar tubuhku, Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata.

“Benarkah perkataanmu tadi?”

“Buat apa aku berbohong?”

“Seandainya kau katakan dari dulu, mungkin aku tak perlu repot-repot melakukan semua ini. Dan aku kan meninggalkanmu sejak lama.”

“Apa maksudmu?”

“Anak di dalam kandunganku ini bukan anakmu,” ujarnya sambil berbisik di telingaku. Mata Vivienne basah, tapi bibirnya justru mengulum senyum.

496 kata

24 pemikiran pada “[Berani Cerita #24] Vivienne

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s