Panggung Orgen Tunggal

singer on stage
credit

“Mentas lagi, Nur?”

“Ada alek di kampung sebelah, Da.” Aku memeriksa dandananku.

“Tak bisakah kau tinggalkan, Nur? Risih rasanya membayangkan kau bernyanyi di panggung sementara para pria merubungmu.”

“Kalau begitu, carikan nafkah untukku.”

Aku melirik satu kakinya yang pengkor. Ia menunduk, mengesah.

“Bukan untukku, demi Rahimi. Dia malu mendengar ibunya bersama pria lain di atas panggung.”

“Jangan bawa dia! Selesai!” Aku mengambil tas selempangku. Beranjak keluar.

Malam larut, tapi panggung makin panas. Kutarik resleting hingga belah dada mengilat terlihat. Pertengahan lagu, mataku berserobok dengan dua pasang mata kosong di bagian penonton. Sejak malam itu, suami dan anakku tak kembali lagi.

Ket:

Alek: pernikahan

100 kata tak termasuk keterangan

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

6 pemikiran pada “Panggung Orgen Tunggal

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s